Sudah larut malam, dan Anda masih terjebak menggulir TikTok. Feed Anda yang memusingkan membawa Anda melewati video kucing—seperti Chesterbelle, si kucing gemuk dalam perjalanan penurunan berat badan—klip memasak, gosip selebriti, hingga pandangan politik yang panas. Anda merasa lelah, tetapi algoritma membuat Anda terpaku selama berjam-jam, dan waktu tidur terus tertunda.
Jika skenario ini terasa akrab, Anda tidak sendirian. Fenomena ini telah melahirkan istilah "brain rot", sebuah frasa yang lebih dari sekadar slang Gen Z. Istilah ini baru saja dinobatkan sebagai Oxford’s Word of the Year 2024, dan para ahli kini mulai menganggapnya sebagai "ancaman kesehatan publik yang membayangi". Ini bukan lagi tentang konten "konyol" semata; ini tentang perubahan fundamental yang terjadi di dalam otak kita.
Artikel ini akan mengungkap lima wawasan mengejutkan yang didukung oleh penelitian tentang bagaimana platform video pendek secara fundamental mengubah cara otak kita berfungsi, melampaui sekadar membuang-buang waktu.
"Brain Rot" Bukan Sekadar Istilah Slang, Tapi Konsep yang Diakui Secara Ilmiah
Meskipun "brain rot" bukanlah diagnosis medis resmi, ini adalah metafora yang signifikan secara budaya untuk menggambarkan kemerosotan kemampuan mental atau intelektual akibat konsumsi berlebihan konten online yang sepele, berulang, atau bernilai rendah. Definisi ini berasal dari para peneliti yang mengembangkan alat untuk mengukurnya secara ilmiah.
Legitimasi ilmiah terhadap konsep ini semakin kuat dengan dikembangkannya Brain Rot Scale (BRS-17), sebuah instrumen psikometri yang divalidasi untuk mengukur tiga dimensi utama dari fenomena ini: Attention Dysregulation (disregulasi perhatian), Digital Compulsivity (kompulsivitas digital), dan Cognitive Dependency (ketergantungan kognitif).
'Brain rot isn't a diagnosis - but it is, say experts, a looming public health threat'
Kutipan ini menyoroti bahwa para ahli mulai memandang fenomena ini sebagai masalah serius dengan implikasi luas bagi masyarakat, terutama bagi Gen Z dan Alpha yang merupakan digital natives sejati.
Mengapa ini penting: Menganggap serius "brain rot" menjadi krusial karena ini bukan lagi hanya tentang "AI slop" atau konten viral. Ini adalah tentang dampak terukur pada fungsi kognitif yang kini dapat diselidiki secara mendalam oleh para peneliti, memberikan kita pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana lanskap digital modern membentuk pikiran kita.
Tapi apa mekanisme persis di balik penurunan kognitif ini? Bertentangan dengan kepercayaan umum, masalahnya bukan hanya konten yang kita tonton, tetapi cara kita berinteraksi dengannya.
Bukan Kontennya, Tapi Gerakan 'Swipe' yang Melemahkan Otak Anda
Banyak orang menyalahkan konten yang "dangkal" sebagai penyebab utama penurunan kognitif. Namun, sebuah studi eksperimental yang dipublikasikan di jurnal Cyberpsychology mengungkapkan temuan yang mengejutkan: tindakan swiping (menggeser) itu sendiri, bukan jenis konten yang ditonton, yang secara signifikan mengurangi kemampuan berpikir analitis.
Dalam penelitian tersebut, peserta yang dapat melakukan swipe untuk berpindah video mendapat skor lebih rendah secara signifikan pada Cognitive Reflection Test (CRT-3)—sebuah tes yang mengukur kemampuan untuk melampaui intuisi yang salah—dibandingkan mereka yang menonton video yang sama secara berurutan. Kelompok swipe juga lebih cenderung percaya pada berita palsu (fake news).
Mekanismenya dijelaskan melalui model mediasi: tindakan swipe mengurangi positive affect (perasaan positif dan keterlibatan emosional), dan penurunan perasaan inilah yang menjadi perantara bagi penurunan kemampuan berpikir analitis.
Mengapa ini penting: Inilah kesimpulan kritisnya: platform-platform ini direkayasa pada tingkat mekanis fundamental untuk mengurangi kapasitas analitis kita, mengubah tindakan sederhana untuk menemukan hal baru menjadi sebuah beban kognitif, terlepas dari apakah kita menonton video hewan lucu atau eksperimen sains.
Jika gerakan swipe adalah mekanisme fisiknya, apa yang terjadi pada tingkat kognitif yang lebih tinggi? Algoritma tidak hanya memengaruhi bagaimana kita berpikir, tetapi juga jenis pemikiran yang dihargai oleh otak kita, yang secara bertahap mendorong kita menjauh dari pemahaman yang mendalam.
Algoritma Melatih Otak Anda untuk "Surface Learning", Bukan "Deep Learning"
Algoritma platform video pendek mengondisikan otak untuk mencari rangsangan yang cepat dan mudah. Menurut Profesor Yousef, konsumsi konten semacam ini dari waktu ke waktu "melatih otak untuk memiliki rentang perhatian yang lebih pendek," membuat konten yang dangkal dan tidak memerlukan usaha terasa lebih "memuaskan" daripada pemikiran yang dalam dan bermakna. Ini mendorong pergeseran dari deep learning (pembelajaran mendalam) ke surface learning (pembelajaran permukaan).
|
Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) |
Surface Learning (Pembelajaran Permukaan) |
|
Bertujuan untuk memahami makna materi. |
Fokus pada menghafal fakta-fakta yang terisolasi. |
|
Menghubungkan ide-ide baru dengan pengetahuan sebelumnya. |
Mempelajari subjek secara terpisah satu sama lain. |
|
Berpikir kritis tentang apa yang telah dipelajari. |
Bertujuan untuk dapat mereproduksi materi (misalnya untuk ujian). |
|
Dimotivasi secara internal oleh keinginan untuk belajar. |
Dimotivasi secara eksternal oleh kebutuhan untuk lulus penilaian. |
Deep learning terasa seperti saat kita mencoba memahami mengapa garam menaikkan titik didih air dengan menciptakan teori-teori kecil tentang bagaimana molekul berinteraksi. Sebaliknya, surface learning adalah penjelasan "kotak hitam" yang berputar-putar, seperti mengatakan air menjadi lebih panas "karena ada garam di dalamnya" tanpa menjelaskan mekanismenya.
Meskipun ada potensi positif dari "bite-sized learning" (pembelajaran singkat), sisi negatifnya tidak dapat diabaikan. Data dari SQ Magazine menunjukkan bahwa konten micro-learning mengurangi retensi jangka panjang sebesar 18% dibandingkan dengan format konten yang lebih terstruktur dan panjang.
Mengapa ini penting: Pergeseran jangka panjang ke surface learning dapat mengikis kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah yang kompleks, dan kreativitas—keterampilan yang sangat dibutuhkan untuk tugas-tugas intelektual yang menantang di dunia nyata.
Pergeseran dari pemikiran mendalam ke pemikiran permukaan ini bukan kecelakaan. Ini didorong oleh sistem neurobiologis kuat yang sengaja dirancang untuk membuat kita terus kembali, membajak jalur penghargaan otak kita dengan cara yang sangat mirip dengan kecanduan zat.
Efeknya Menyerupai Kecanduan Zat dengan Membajak Sistem Dopamin Otak
Jika Anda merasa sulit berhenti scrolling, itu bukan karena kurangnya kemauan. Algoritma TikTok berfungsi seperti "mesin slot dopamin" yang memanfaatkan mekanisme neurobiologis yang sama dengan kecanduan zat. Konsep ini disebut intermittent reinforcement (penguatan intermiten): setiap geseran memberikan hadiah yang tidak dapat diprediksi—kadang video yang lucu, kadang menarik, kadang biasa saja. Ketidakpastian inilah yang secara kuat mengaktifkan jalur dopamin di otak.
Penelitian neurobiologis menunjukkan bahwa kecanduan platform digital berbagi mekanisme fundamental dengan kecanduan zat. Keduanya menunjukkan peningkatan aktivasi di area penghargaan otak seperti ventral tegmental area dan nucleus accumbens.
Dalam studinya yang membandingkan TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts, Meredith E. David, Ph.D. dari Baylor University menemukan bahwa desain TikTok secara unik ampuh. Ia menyatakan:
“TikTok’s algorithm is intentionally created to be addictive. Their own materials acknowledge that users can become hooked after less than half an hour on the app.”
Mengapa ini penting: Memahami dasar neurobiologis ini sangat krusial. Ini mengubah narasi dari kegagalan pribadi menjadi respons otak yang dapat diprediksi terhadap sistem yang dirancang secara ahli untuk membuat kita terus kembali, yang seringkali berkorelasi dengan peningkatan kecemasan dan depresi.
Dorongan dopamin yang tak henti-hentinya untuk mencari kebaruan inilah yang mendorong perpindahan tugas yang cepat dan pada akhirnya merusak kemampuan kita untuk mempertahankan fokus. Otak kita dilatih untuk "mengharapkan hiburan setiap beberapa detik," dan dampaknya tidak hanya terasa secara emosional, tetapi juga terukur secara fisik dan kuantitatif.
Perubahan Fisik pada Otak dan Penurunan Rentang Perhatian yang Terukur
Dampak dari konsumsi media digital yang berlebihan bukan hanya bersifat sementara; ada bukti yang menunjukkan perubahan fisik pada otak dan penurunan kuantitatif pada rentang perhatian. Profesor Nilli Lavie, seorang ahli neurosains di University College London, menjelaskan bahwa orang yang sering melakukan media multitasking terbukti memiliki volume yang lebih kecil di beberapa area otak yang penting untuk kontrol penuh atas perhatian.
Data dari SQ Magazine memberikan gambaran yang lebih gamblang tentang penurunan ini:
- Data dari tahun 2025 menunjukkan rata-rata rentang perhatian manusia telah menurun menjadi 8,25 detik, turun dari 12 detik pada tahun 2008.
- Pengguna sekarang hanya menghabiskan rata-rata 1,7 detik untuk melihat sebuah konten di ponsel sebelum memutuskan untuk berinteraksi atau melewatinya.
- Pengguna Gen Z rata-rata hanya memiliki rentang perhatian 6,5 detik pada konten media sosial.
- Paparan teratur terhadap konten mikro mengurangi kemampuan untuk fokus pada satu tugas selama lebih dari 9 menit.
Dalam kehidupan nyata, penurunan ini berarti kesulitan menyelesaikan tugas yang membutuhkan fokus berkelanjutan, meningkatnya kegelisahan mental, dan perasaan pikiran yang "berkabut" atau terpencar setelah sesi scrolling. Psikolog menyebut fenomena sisa-sisa konten sebelumnya di pikiran kita sebagai "attentional residue".
Mengapa ini penting: Ini bukan hanya perasaan subjektif. Ada bukti neurobiologis dan data kuantitatif yang menunjukkan bahwa kebiasaan digital kita secara aktif membentuk kembali arsitektur otak kita dan secara terukur mengurangi salah satu sumber daya kognitif kita yang paling berharga: kemampuan untuk fokus.
Merebut Kembali Fokus di Dunia yang Penuh Distraksi
Masalah brain rot lebih dalam dari sekadar konten yang kita konsumsi. Ini berakar pada desain platform yang secara sengaja memanfaatkan bias kognitif dan sistem penghargaan otak kita untuk memaksimalkan keterlibatan. Hasilnya adalah pergeseran yang terukur menuju pemikiran yang lebih dangkal, rentang perhatian yang lebih pendek, dan perubahan nyata pada otak kita.
Bukti ini meyakinkan, tetapi tidak menentukan. Otak kita mempertahankan neuroplastisitasnya, dan merebut kembali fokus kita adalah hal yang mungkin. Jurnalis Isabelle Knevett, dalam perjalanannya untuk "membersihkan" otaknya, menemukan beberapa strategi praktis yang efektif. Ia mulai menekuni hobi bebas layar seperti melukis dan menjahit, menciptakan "gesekan digital" dengan mematikan notifikasi dan mengatur ponselnya ke mode abu-abu (greyscale), dan menemukan bahwa menghabiskan waktu di luar ruangan memberikan pencapaian yang jauh lebih memuaskan daripada video viral mana pun.
Platform-platform ini dirancang untuk merebut perhatian kita, bukan untuk menyejahterakan kita. Dalam realitas ini, pertanyaan terpenting bukanlah 'apa yang salah dengan otak kita?', melainkan 'bagaimana kita secara sadar bisa membangun kembali fokus di dunia yang secara aktif dirancang untuk menghancurkannya?'
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!